
TL;DR
Singkawang adalah kota di Kalimantan Barat dengan populasi sekitar 242.000 jiwa yang didominasi etnis Tionghoa Hakka (~42%), Melayu, dan Dayak. Kota ini meraih predikat kota paling toleran di Indonesia versi SETARA Institute tiga kali berturut-turut pada 2021, 2022, dan 2023. Setiap tahun, Singkawang menjadi tuan rumah perayaan Cap Go Meh terbesar di Indonesia, dengan Pawai Tatung sebagai daya tarik utamanya yang sudah masuk Kalender Wisata Nasional sejak 2009 dan diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2020.
Nama Singkawang berasal dari dua versi asal-usul yang kebetulan punya makna serupa. Orang Dayak Salako menyebutnya Sakawokng, artinya daerah rawa luas di pinggir pantai. Sementara imigran Tionghoa Hakka yang datang kemudian menyebutnya San Khew Jong: gunung, mulut sungai, dan laut. Dua bahasa, dua komunitas yang berbeda, tapi menggambarkan tempat yang sama dengan cara yang hampir identik. Itu mungkin cara paling ringkas untuk memahami Singkawang.
Kota ini terletak di Provinsi Kalimantan Barat, sekitar 142 kilometer dari Pontianak, dan secara resmi menjadi kota otonom berdasarkan UU No. 12 Tahun 2001. Tapi identitas Singkawang sudah terbentuk jauh sebelum itu, sejak abad ke-18 ketika pedagang dan penambang emas dari Tiongkok singgah di sini sebelum melanjutkan perjalanan ke Monterado.
Kota Tiga Etnis yang Disebut “Tidayu”
Singkawang punya akronim tidak resmi yang cukup populer di kalangan warganya: Tidayu, singkatan dari Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Tiga kelompok etnis terbesar yang membentuk karakter kota ini. Berdasarkan data kependudukan, sekitar 42% penduduknya adalah keturunan Tionghoa Hakka dan Tio Ciu, 30% Melayu Sambas, 10% Dayak, dan sisanya Jawa, Madura, serta pendatang dari berbagai daerah.
Toleransi di Singkawang bukan sesuatu yang ditempelkan sebagai slogan, melainkan sesuatu yang hidup dalam praktik sehari-hari. Masjid Raya Singkawang berdiri berdampingan dengan Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Saat Lebaran, warga Tionghoa ikut berkunjung ke tetangga Muslim. Saat Imlek, warga Melayu dan Dayak turut meramaikan perayaan. Ketua PCNU Singkawang pernah menyebut kondisi ini sebagai sesuatu yang sudah berlangsung dari generasi ke generasi, bukan sesuatu yang baru dibuat-buat.
SETARA Institute mencatat Singkawang sebagai kota paling toleran di Indonesia berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) yang mengukur 94 kota di seluruh negeri. Singkawang meraih posisi pertama pada 2018, 2021, 2022, dan 2023, dengan skor 6,500 dari skala 7 pada 2023.
Cap Go Meh: Kenapa Singkawang Berbeda dari Kota Lain
Hampir setiap kota dengan komunitas Tionghoa merayakan Cap Go Meh. Jakarta punya Glodok, Medan punya kawasan pecinannya, Surabaya punya kelenteng-kelentengnya. Tapi Singkawang konsisten disebut yang terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Alasannya satu: Pawai Tatung.
Tatung adalah figur spiritual yang dipercaya menjadi medium antara manusia dan roh leluhur atau dewa. Dalam bahasa Hakka, ta berarti pukul dan tung merujuk pada pelakunya. Tidak semua orang bisa menjadi tatung. Hanya mereka yang dianggap layak menerima kerasukan roh leluhur, melalui ritual yang dipimpin seorang pendeta. Dalam pawai, para tatung menampilkan kekebalan tubuh: menusukkan benda tajam ke pipi, berjalan di atas pedang, menyiramkan air ke sepanjang jalan sebagai simbol pembersihan kota dari energi buruk.
Tradisi ini lahir dari sejarah panjang. Menurut catatan Tirto yang mengutip laman resmi Kemendikbud, ritualnya bermula sekitar tahun 1772 ketika wabah melanda perkampungan Tionghoa di Monterado, dan tabib tradisional menyarankan diadakannya ritual tolak bala pada hari ke-15 bulan pertama kalender Imlek. Dari situ, tradisi Cap Go Meh dengan tatung berkembang selama berabad-abad dan menyerap unsur budaya Dayak, terlihat dari tatung Dayak yang turut hadir dalam pawai dengan aksesori kalung tengkorak dan mahkota bulu burung.
Pada masa Orde Baru, pawai tatung sempat dilarang. Setelah era reformasi dan kebebasan berekspresi budaya Tionghoa diakui kembali, Cap Go Meh Singkawang berkembang pesat. Sejak 2009, perayaan ini resmi masuk Kalender Wisata Nasional. Sejak 2008, festival ini tercatat mencetak 11 rekor MURI, mulai dari gerbang terbesar hingga naga liong terpanjang. Pada 2020, tatung diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Di Cap Go Meh 2026 yang berlangsung 3 Maret, sebanyak 727 tatung ikut serta dalam pawai, terdiri dari tatung bertandu, tatung tanpa tandu, miniatur, dan jelangkung. Jumlah ini stabil dari tahun ke tahun karena tradisi tatung memang tidak bisa dibuat-buat: pesertanya harus melalui proses spiritual yang tidak bisa dipercepat hanya karena ada permintaan kuota.
Arti Nama “Seribu Kelenteng” dan Berapa Jumlah Sebenarnya
Julukan “Kota Seribu Kelenteng” memang terdengar hiperbolis, tapi tidak sepenuhnya berlebihan. Data dari Kementerian Agama tahun 2014 mencatat sekitar 704 kelenteng di Singkawang, menjadikannya salah satu kota dengan konsentrasi rumah ibadah Tionghoa tertinggi di Indonesia. Angka ini mungkin sudah berubah, jadi untuk data terkini sebaiknya merujuk ke Kemenag langsung.
Kelenteng tertua dan paling ikonik adalah Vihara Tri Dharma Bumi Raya, yang berdiri sejak 1878 di pusat kota. Di sekitar vihara ini berdiri kawasan Pasar Hongkong, area yang buka hampir 24 jam dan menjadi tempat bertemunya berbagai etnis untuk berdagang dan makan bersama. Kawasan ini juga lokasi Rumah Marga Tjhia, bangunan dari tahun 1902 yang ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Singkawang sejak 1999.
Kuliner Singkawang: Lebih dari Sekadar Choi Pan
Choi pan memang yang paling sering disebut, tapi kuliner Singkawang jauh lebih luas dari itu. Kue berbahan tepung beras dengan isian bengkuang atau talas ini memang ikonik, tapi ada beberapa hal yang perlu diketahui agar tidak kecewa:
- Choi pan dan chai kwe adalah nama yang sama untuk kue yang sama. Choi pan dari bahasa Hakka, chai kwe dari bahasa Tio Ciu. Keduanya merujuk pada kue berisi sayuran yang disajikan dengan bawang putih goreng dan saus cabai.
- Bubur Gunting: cakwe yang dipotong-potong dengan gunting, disiram kuah kental kacang hijau dan gula merah. Nama “bubur” di sini tidak merujuk pada bubur dari beras sama sekali.
- Bubur Paddas: nama ini sering disalahartikan. Bubur ini tidak pedas, justru cenderung gurih dan asam karena jeruk nipis. Bahan dasarnya jagung, kangkung, tauge, dan ikan teri.
- Mie Tiaw Asuk dan Yamien (mie kering): dua sajian berbahan dasar mie yang sudah punya nama besar di kalangan pencinta kuliner Kalimantan Barat.
- Kopi warung tua: warung kopi di Singkawang bukan sekadar tempat minum kopi. Tradisi ngopi di sini melekat kuat dengan budaya Tionghoa, biasanya dilengkapi kue-kue tradisional dan suasana yang sudah berjalan puluhan tahun.
Perpaduan budaya di meja makan bukan metafora kosong di Singkawang. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal akademik IAIN Palangka Raya menyebutkan bahwa “toleransi di meja makan” adalah salah satu wujud nyata interaksi lintas etnis di kota ini: pedagang dari berbagai latar belakang agama dan suku saling menghormati waktu ibadah satu sama lain, sementara pelanggan dari berbagai etnis duduk bersama tanpa sekat.
Cara Menuju Singkawang dan Hal yang Perlu Dipersiapkan
Singkawang belum punya bandara komersial aktif. Akses paling umum adalah melalui Bandara Supadio di Kubu Raya (Pontianak), lalu dilanjutkan perjalanan darat sekitar tiga jam ke utara. Kota ini juga punya posisi strategis karena berada di jalur lintas dari Pontianak menuju perbatasan Malaysia di Sambas.
- Jika tujuan utama adalah Cap Go Meh, pastikan pesan akomodasi jauh-jauh hari. Hotel di Singkawang dan Pontianak penuh dalam beberapa minggu sebelum perayaan.
- Cap Go Meh jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Tanggalnya berubah setiap tahun mengikuti kalender lunar.
- Di luar musim festival, Singkawang tetap layak dikunjungi. Pantai Pasir Panjang, Danau Biru (bekas galian tambang emas yang berubah jadi danau berwarna biru), dan kawasan Sinka Island Park bisa menjadi pilihan.
Singkawang adalah kota yang identitasnya terbentuk dari persilangan sejarah, bukan dari satu narasi tunggal. Kota ini membuktikan bahwa keberagaman bukan sekadar toleransi di atas kertas, tapi sesuatu yang bisa hidup dalam cara orang makan, merayakan, dan membangun komunitas bersama selama berabad-abad.